yanti's posts with tag: pelatihan
Cirebon adalah kota selanjutnya yang aku singgahi untuk pelatihan guru, kami menyebutnya level 1, pada level ini sistemnya memperkenalkan PAKEM, KTSP, dan PBK. Seharusnya bukan aku dan bu evi yang pergi, tetapi Pak Fikri dan Pak Asep, tetapi Pak Fikri pada waktu itu ga bisa pergi, jadi pelatihan 4 hari ini dibagi dua, 2 hari saya dan bu evi dan 2 hari berikutnya pak Asep. Sudah saya bayangkan cirebon yang panas...dan umumnya wilayah panas pasti kusam dan gersang...tetapi memasuki Kota Cirebon, kesan itu berubah 180 derajat. Cirebon ternyata kota yang indah dan bersih, bahkan keberersihannya telah menuai prestasi adipura. Wah,,, cirebon betul-betul siap menjadi kota pariwisata. Hotel yang kami tumpangi pun harganya cukup murah 180 rb per kamar (setelah dapat potongan cooperate REPUBLIKA). Seperti biasa, pelatihan berjalan...kadangkala rasa jenuh pelatihan mendera...rasanya bosan melatih ini ini terus, walaupun peserta berbeda-beda. ritmenya setiap bulan melatihkan hal yang sama paling tidak dua kali...saya kadang bertanya, "apakah pelatihan ini cukup aplikatif bagi guru?apakah pelatihan memberi manfaat yang cukup besar bagi pembendaharaan metode mengajar guru? apakah betul pelatihan ini mengubah paradigma guru? apakah..." semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. Aku kadang merasa bahwa pelatihan ini hanya menghabiskan uang umat saja...mengapa? karena 20 tahun sudah active learning di perkenalkan, disosialisasikan, dan dilatihkan, di proyekkan lagi, tetapi hasilnya???? semua tanda tanya. Apa yang menyebabkan ini semua? kultur?malas? atau apa???? tapi semua ini menjadi bahan refleksi bagi saya untuk memformulasi, cara efektif melakukan reformasi pengajaran guru...Harapan besar saya ada di LPTK, karena LPTK adalah pencetak para guru....obsesi saya adalah WORKSHOP......DOSEN LPTK TERUTAMA PGSD....! MUDAH-MUDAHAN ADA JALAN DARI ALLOH.
 Kupang, NTT adalah kota ke tiga yang aku kunjungi untuk pelatihan. Kali ini temanya tentang mitigasi bencana. Agak mendadak mendapatkan tugas ini, karena seharusnya yang pergi adalah Pak Fikri, tapi akhirnya aku terima juga.Kusampaikan keinginanku untuk menelusuri kota ini, pada Bu Evi. Bu Evi membicarakan tentang Mas V, Teh Y, Bu L, Pak F, dan B N yang merupakan petinggi di DD Republika, yang jika ada tugas ke luar kota, mereka datang, kerja, dan segera pulang lagi, tak sempat menikmati apa pun di kota yang dikunjungi. Ehhhmmm, pikirku. Lalu aku tanya balik ke bu Evi, "Enak tidak bekerja dengan ritme seperti itu?" Saya salut pada orang-orang yang bekerja dengan dedikasi seperti itu, tetapi saya bukan tipe orang seperti itu" Jika berkunjung ke suatu daerah yang paling saya sukai adalah merasakan masakan daerah tersebut, mengenal budaya daerah tersebut, dan hunting oleh-oleh, karena walau bagaimana pun oleh-oleh adalah cermin dari masyarakat tersebut (oleh-oleh 5.000 an biasanya yang saya cari). Rasanya rugi sekali, sudah jauh-jauh ke suatu tempat, dibayar pun sangat minim (padahal 2 jam sekaliber saya, ngisi seminar di UIN bisa dapat 1,3 jt) ehhh cuma berkutat dari bandara-hotel-tempat pelatihan-hotel-bandara...wah sayang sekali tak dapat apa-apa. Alhamdulillah bu Evi satu pemikiran dengan saya. Dengan diantar kakak sepupunya, kami menelusuri kota kupang yang ternyata pulau ini sangat indah, laut membentang di samping kiri jalan.... Kami menemukan tulisan yang lucu.....ketika sampai di sebuah goa. Namanya goa itu silahkan anda baca yang keras pada saat ini, boleh sambil berteriak ' "G U A M O N Y E T"  ya begitulah orang Kupang menulis goa monyet, yang memang disana banyak monyet. Kami bisa menikmati jalanan bebas hambatan di Kupang...karena hanya mobil kami saja yang ada di jalan tersebut. Pagi sebelum pulang, kami sempat berfoto di bawah tugu sasando. Sasando adalah alat musik asli kupang. Yang menarik dari sasando adalah memainkannya dengan cara di "sintreuk", saya terkejut ketika tahu cara memainkan alat musik ini. Gitar, kecapi, dan harpa diperlakukan sangat lembut sehingga menghasilkan nada-nada indah. Sasando di "sintreuk" bunyi yang dihasilkan indah memang, tetapi. ". ..sebelumnya guru-guru pada saat pelatihan mengatakan bahwa anak-anak disini keras-keras, kalau kitanya lembut akan dilecehkan, jadi kitanya harus ikut keras juga...bahkan main pukul..." saya mencoba menghubungkan cara memainkan sasando dan watak orang-orang kupang....mungkin ini ada hubungannya. Kekerasan mereka terlihat dari cara mereka memainkan alat musik khas mereka. Saya pun sempat mengunjungi pantai Lusiana, pantai yang indah, tampak pula di pantai itu anak-anak sedang bermain....sayangnya saya gak sempat makan jagung bose...karena ke halalannya diragukan.  Good Bye Kupang, Mudah-mudahan segala hal yang telah kami berikan di pelatihan, tidak akan di praktekan, karena kalau sampai dipraktekan berarti wilayah tersebut kena bencana"
Jogja II: Pada perjalanan kali ini ak pergi bersama bu Evi, pergi bersama akhwat bagiku lebih nyaman. Tujuannya adalah memberikan pelatihan tentang evaluasi pembelajaran....Oh ya di Jogja ini ada 3 sekolah Dampingan kami yang dibangun pasca gempa dengan dana dari EXXON MOBIL OIL. setelah beres pembangunan gedung, dilakukan pula pendampingan yang tujuannya adalah membudayakan sekolah dengan PEMBELAJARAN AKTIF. Secara pribadi aku berpendapat programnya simple, yaitu membuat sekolah mampu mengajar dengan basis student center, tapi secara pribadi aku pesimis dalam dua tahun bisa meraih itu semua, karena pemerintah saja dengan proyek2nya sejak 1980-an sudah melakukan CBSA dan kini PAKEM, tetapi sekolah-sekolah kesulitan mengadopsi CBSA & PAKEM ini.... Dua dekade sudah pembelajaran berbasis student ini disosialisasikan dan ditrainingkan pada guru-guru bahkan ada sekolah-sekolah pilot project segala, tetapi hasil survei MBE proses pembelajaran di Indonesia kebanyakan masih teacher center dan tetap konvensional. Mengapa ini terjadi? menurut saya ada beberapa alasan kegagalannya: 1. Guru sudah terlanjur enak dengan sistem pengajaran yang selama ini turun temurun diwariskan, dan mereka mempunyai bukti empiris banyak siswa mereka yang akhirnya berhasil menjadi orang, hata dengan pembelajaran konvensional tersebut. 2. CBSA dan PAKEM adalah adopsi dari barat, dan ada langkah panjang yang harus dilakukan oleh Indonesia ketika akan mengadopsi ini, karena kultur timur dalam pengajaran terlanjur mendarah daging, ingat dipesantren-pesantren yang merupakan cikal bakal pendidikan formal di Indonesia, kita mengenal metode sorogan dalam pembelajaran, yang mana peran utadz sangat sentral. Guru sebagai orang yang serba tahu, tiba-tiba harus diubah menjadi guru dan murid sama-sama ingin tahu. Proses ini tentu butuh waktu panjang. 3. Pembelajaran CBSA dan PAKEM menuntut guru kreatif dan siswa aktif. Siswa aktif ditandai dengan tingginya rasa curiosity, akses terhadap informasi, keberanian mencoba dan tidak takut salah/gagal, berani bertanya, mengemukakan pendapat, dan kemampuan menulis, serta menganalisis menggunakan logikanya. semua tanda siswa aktif tersebut tidak muncul pada kebanyakan anak Indonesia, karena lingkungan pendidikan secara holistik (keluarga, rumah, sekolah, dan sistem) terlanjur memplotkan mereka menjadi massa mengambang. Guru kreatif...juga tidak muncul...mengapa? salah satu faktor adalah MUDAHNYA MENJADI GURU DAN PERCETAKAN GURU BESAR-BESARAN DI ERA LAMPAU menjadikan guru kurang terseleksi dengan baik, yang penting GURU TERSEDIA. akhirnya sosok guru seperti KI Hajar Dewantoro dan KH Ahmad Dahlan, R.A Kartini dan R. Dewi Sartika sulit ditemukan kembali, yang banyak adalah menjadi guru adalah PEKERJAAN. Profesi guru pun tidak lagi datang dari hati, tetapi dari money (bahaya ini juga akan terjadi dengan tunjangan bagi guru tersertifikasi) 4. Bangsa ini tidak jelas mau mengarah kemana? secara kebijakan kita lebih suka jadi bangsa buruh dan tetap terjajah, sehingga kebijakan untuk pembelajaran aktif pun setengah hati...karena pembelajaran seperti ini punya potensi membahayakan negara yang lebih suka dengan status quo sebagai negeri buruh dan terjajah. Pembelajaran aktif berpotensi melahirkan anak-anak yang kritis, kreatif, dan inovatif....jadi pengelontoran dana pun bersipat pilih-pilih... Jadi tujuan yang simple dari target untuk SD Pacar, MI Giriloyo 1 & 2 di Jogja tersebut, bagi saya berat sebetulnya, dan kurang menjual bagi sekolah yang didampingi, karena suatu sekolah jika ingin terkenal harus punya keunikan, proses belajar mengajar berbasis active learning, kurang menjual, selain untuk mencapainya dalam waktu dua tahun bukan hal yang mudah. Oleh karena itu saya berpikir keras, bagaimana memperkenalkan sekolah dampingan DD ini agar dilirik oleh masyarakat Jogja kalau bisa dunia!!!! Maka hasil putaran otak dan ngobrol dengan kepala sekolah, para komite sekolah, guru-guru IT, keluarlah sebuah jargon, untuk menjadikan SDN Pacar Berbasis Linux, dan MI Giriloyo Berbasis Batik. Lalu ditawarkan jargon ini pada kepala sekolah... Diperjalananku yang ke dua ini, aku dapat bernapas lega, karena bisa jalan-jalan malam di seputar malioboro, sekalian beli buah tangan....

Jogja (begitulah orang sana menyebutnya dan tidak rela kalau disebut yogya...Toserba kali??) adalah kota kedua yang aku kunjungi setelah Aceh: Jogja I : Tujuan ku adalah menemani Pak Asep untuk bersama-sama memberikan pelatihan mengenai budaya sekolah. Maklum aku belum tahu situasi kondisi, dan bagi Pak Asep ini perjalanan ke Jogja yang kedua kalinya. Perjalanan kali ini cukup berliku, karena kami dibekali uang yang pas-pasan....akhirnya kami harus betul-betul mengirit, bahkan ketika akan pulang kembali, dari bandara kami bertanya-tanya apakah uangnya masih cukup untuk naik taxi???tapi alhamdulillah kami tak harus mengamen......karena kami memilih melewati jalan belakang bandara yaitu lewat tangerang (dengan membayar pajak pada petugas pintu bandara 3.000 mobil pun dizinkan lewat belakang), lebih irit karena tidak perlu melewati jalan tol Jakarta-Bogor yang bisa menghabiskan 20.000, selain juga lebih cepat tidak perlu berputar-putar karena kantor kami di Parung. Walhasil kami membayar taxi 180 rb-an, waduh pas banget, uang yang tersisa ditangan kami memang segitu.... Ini kunjungan pertamaku ke Jogja, tapi aku tidak bisa jalan-jalan kecuali ke alun-alun yang ada kandang gajah itu....selain risi pergi dengan ikhwan kalau harus jalan-jalan segala, juga memang kami tak dibekali uang cukup....tapi aku tak sedih karena ini bukan perjalanan terakhir ke Jogja.
25 – 28 Desember 2007, saya memberikan pelatihan (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) bagi guru yang belum berkesempatan lulus portofolio sertifikasi guru 2007. Pelatihan terhadap guru-guru RA di Propinsi Banten yang bertempat di MAN Model Serang memberikan kesan yang luar biasa bagi saya. Pelatihan ini adalah pelatihan yang terindah dari semua pelatihan yang saya pernah berikan di berbagai kota mulai dari Aceh, Tangerang, Bekasi, Kerawang, Bogor, Jogjakarta, Jakarta, dan Kupang. Mengapa pelatihan ini paling berkesan:
Pertama: di pelatihan ini kami menciptakan sebuah lagu Kenal dengan irama lagu “becak” yang syairnya saya mau tamasya berkeliling-keliling kota…., nah saya gunakan lagu tersebut untuk permainan ice breaking “go around the world” saya Tanya kepada para peserta, “Ada kota yang ingin dikunjungi?” serentak menjawab, “Mekah!” Lalu permainan dimulai, dan akhir permainan ini adalah pergi ke kota…memutar irama becak!Saya minta para guru bernyanyi….Luar biasa kreatifnya guru-guru RA Banten, diinspiratori dan motori oleh Hj. Murjinah yang berasal dari Parangtritis Bantul, Ngojokja, mengalirlah syair lagu ”PERGI KE MEKAH” dengan irama becak. Syairnya adalah sebagai berikut: Pergi ke Mekah Saya pergi ke Mekah Berkeliling keliling ka’bah Sambil baca Talbiah Dan wukuf di Arafah Lalu melempar jumroh Ulawustho aqobah Lari...lari... Dari Sofa ke Marwah
Kedua, Saya ya juga mendapatkan puisi dan 1 keping VCD tentang haji.
VCD tentang Haji Nan Syarat Makna oleh Nong Ella (salah seorang guru RA Banten yang menjadi peserta) seperti doa bagi saya yang berharap untuk bisa pergi ke Baitullah. Bu Ella pun membuatkan puisi bagi saya, yang menggambarkan saya dengan kesederhanannya. Aku terkejut…. Ketika di rumah ketua MPR itu …. (komentar RED: kayaknya bu Ella pernah ke rumah Pak Hidayat Nurwahid) Muncul sang nyonya si empunya rumah… Nyariis tak bermake up… Baju yang melilit ditubuhnya pun tak bermerek Namun, wibawa yang dia usung lewat sikapnya Menunjukkan, bahwa wanita itu penuh charisma…. Kini aku….. kembali terkejut… Wanita lain berdiri dihadapanku (komentar RED: ini ditunjukkan pada saya yang sedang geer) Pun tak bermake up…. Pakainya pun tak bermerk… Tapi…senyum yang selalui dia tebarkan…. Menujukkan bahwa dia memiliki berjuta pesona…. Dan… Dua wanita itu… Adalah wanita yang paling tawadhu Yang pernah ku temui di jagad ini…. Serang, 13 September 2007 To Bu Yanti dari Ella
Terakhir mudah-mudahan kesan dari Nur Azizah pada saya menjadi perangkum kesan dari semua peserta yang saya latih, “Selama berlangsung kegiatan belajar mengajar di RA yang walaupun Cuma hanya 2 hari, tapi banyak kesan-kesan yang mendalam yang tidak mungkin dilupakan: kesederhanaan, tutur kata yang menyejukkan, dan dapat mengihupkan suasana”.
| |