CATATAN HARIAN DAN BUAH PIKIRANKU

yanti's posts with tag: langkahan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag langkahan
Blog EntryPerjalananku ke Langkahan Aceh UtaraMar 15, '08 9:05 AM
for everyone

Ini adalah penerbangan pertamaku.  Aku dijadwalkan berangkat pukul lima pagi menuju Banda Aceh.  Katanya dua atau satu jam sebelumnya harus berada di Bandara.  Admin kami, Mas Devi mengatakan bahwa kami akan dijemput pukul tiga malam. Aku pun bersiap-siap mulai pukul satu malam.  Karena akan meninggalkan anak-anak, maka dini hari itu aku memasak sarapan buat bekal mereka di pagi hari, menyiapkan batu, dan menyapu rumah.  Satpam komplek yang lewat depan rumahku, memandang penuh keheranan dengan kelakuanku yang menyapu di dini hari dengan pakaian yang sudah rapi.  Tunggu di tunggu, sampai jam tiga driver yang akan menjemputku belum juga datang.  Jam setengah empat juga belum nongol. Aku mencoba menganggu teman-temanku dengan menanyakan nomor Pak Fikri „manajer Makmal“ rekan yang juga ikut serta dalam perjalanan.  Aku meneleponnya dengan mengabarkan bahwa aku belum juga dijemput.  Beliau mengatakan untuk menunggu dulu.  Aku mencoba menelepon driver, tapi apesnya hanya bunyi nut...nut...nut yang terdengar.  Aku menelepon lagi Pak Fikri, menanyakan bagaimana langkah selanjutnya. Berangkat menggunakan bis dari Bogor ke Bandara? Wah...ternyata tiga tiket kami ada di sang driver.  Aku kemudian memutuskan untuk pergi ke kantor.  Tepat jam empat pagi, diantar motor oleh suamiku dengan membawa tas besar, aku pergi ke Bumi Pengembangan Insani.  Aku menanyakan kabar pada para satpam di kantor tentang keberadaan driver kami yang akan mengantar ke bandara saat itu, tapi tak seorang pun melihat, walaupun mobil elf yang akan mengantarkan kami masih terparkir di garasi kantor. 

Akhirnya aku masuk ke dalam kantor. Kondisi kantor yang berantakan, karena pembenahan dan relokasi ulang kantor-kantor tiap program, aku mencari celah, „susuganan“ tikert tertinggal di kantor.  Tapi pencarian sia-sia. Telepon kantor masih tergelatak di lantai, kondisi lantai pun acak-acakan.  Aku mencoba menelepon admin, tapi tidak ada yang mengangkat, menelepon pak Ibnu juga masih nut...nut...  Aku menelepon Pak Fikri, dan menyuruh aku untuk menunggu saja.  Memang tak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu, karena tiket ada di tangan beliau. Adzan subur pun berkumandang.  Kebetulan aku tidak solat, tapi aku keluar untuk mencari udara segar dan melihat anak-anak SMART sholat. Seorang driver lain yang tinggal di Asrama menyapaku dan menayakan aku.  Aku menceritakan kronologis peristiwa dan intinya menunggu driver  yang belum datang.  Akhirnya aku pun kelelahan menunggu, ku ambil dua kursi kerja dan ku coba memejamkan mata. Lima menit mata terpejam rasanya segar.  Jam setengah enam, Driver  muncul dan meminta maaf, karena telat bangun.  Aku naik mobil, dan kulihat tiket, pesawat berangkat pukul 6.30.  Satu jam ke bandara??? Hemmm…. Kami juga harus menjemput dulu  Rekan kami, Pak Fikri di Depok.  Ga Mungkin!!!!

Ya…..akhirnya tiket kami bertiga seharga 2,6 jt harus hangus…..!  Kami membeli tiket baru dengan harga 1,8 juta menuju Medan.  Tujuan ku ke Aceh adalah melakukan assessment awal.  Kami akan melakukan assessmen awal terhadap SDN 7 Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.  Kami sedang menggarap sebuah proyek pembangunan SDN 7 Langkahan pasca bencana Banjir.  Karena SDN 7 Langkahan dekat sekali dengan EXXON MOBILOIL, maka perusahaan itulah yang akan mendanainya.  Assessment ini melibatkan seorang insiyur pembangunan lokasi, yaitu Pak Azis.  Insiyur dari kontraktor rekanan Dompet Dhuafa yang biasa membangun sekolah proyek Dompet Dhuafa.  Beberapa sekolah seperti SMAN Lhoong, Aceh Besar, MI Giriloyo Bantul, dan SDN Pacar Bantul adalah hasil kerjasama dengan perusahaan ini.

“Sesudah ada kesulitan pasti ada kemudahan”  kami dimudahkan mendapatkan kendaraan carteran dari Medan menuju Aceh Utara.  Sepanjang perjalanan, bagi saya adalah jalan tol, karena seringkali hanya mobil kami saja yang lewat.  Pukul 11 kami sampai Posko Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa (MM DD) di Lokhsukon.  Di posko ada beberapa rekan yang sudah menunggu, karena sebelumnya kami mengkonfirmasikan kedatangan kami.  Mbak Saharti adalah koordinator  MM DD menerima kami, sayangnya beliau tidak bisa lama, karena pada pukul 11 malam itu juga harus ke Banda Aceh, untuk berangkat menuju Bogor esok harinya.  Jam 11 malam???seorang akhwat??? Ah rupanya Aceh sudah aman sekarang.  Aku menginap di rumah kos Mbak Saharti bersama seorang ibu yang berasal dari Aceh asli.  Sementara Pak Fikri dan Pak Azis menginap di Posko MM DD.

Keesekon harinya kami pergi menuju lokasi SDN 7 Langkahan Aceh.  Kami diantar oleh Bang Samir, salah seorang pendamping MM DD di Aceh Utara.  Sepanjang perjalanan aku bertanya kenapa banyak pos penjagaan polisi.  Bang Samir menceritakan bahwa dulu lebih banyak lagi, ketika darurat militer.  Sekarang sudah berkurang.  Rupanya sejak perjanjian Helsinki Aceh agak tenang.  Tapi bukan berarti tenang sekali, karena kata Bang Samir ada masalah baru di Aceh, yaitu perampokan (atau lebih mirip perompakan).  Bupati Aceh utara yang terpilih pun dari GAM, tetapi ancaman-ancaman BOM masih ada.  Hemmm...rupanya antar kawan muslim senang sekali saling berperang, bahkan di wilayah yang menerapkan syariat Islam sekali pun!

Perjalanan dari Loksukon ke Langkahan cukup jauh, dan jalannya menanjak.  Dari bawah kami sudah melihat puncak jalan.  Sepanjang jalan pohon coklat melambai-lambai pada kami. Kecamatan Langkahan ada di Balik Bukit.  Spedometer mobil kami mencatat jarak nya 30 km.  Hmmm....cukup jauh bukan?

SDN 7 Langkahan, begitu plank namanya.  Pagarnya cukup kokoh....tetapi ketika memasuki halaman sekolah, tampak kumbangan air bercampur lumpur sisa banjir Desember 2006 lalu yang belum dibersihkan.  Anak-anak berkulit hitam dan berambut merah karena terbakar matahari tampak sedang bermain. Dari seluruh kelas yang ada, hanya tiga ruangan yang masih layak untuk digunakan sebagai kelas.  Sementara kelas lainnya kondisinya sangat ironis.  Beberapa langit-langit berlubang, bahkan atap bagian depan tampak miring seperti mau roboh.  Memasuki dalam kelas lebih lagi, kondisinya gelap dan tak sehat bagi mata anak.  Bangku dan kursi pun tampak lusuh karena serangan banjir. Beberapa anak bahkan harus rela berdesak-desakan untuk mendapatkan sedikit tempat duduk.  Anak-anak memandang ku sambil tersenyum-senyum dan berbisik-bisik.  Aku tawari mereka, „mau foto?“ seperti anak-anak umumnya, mereka pun langsung bergaya.  Beberapa kelas tidak ada gurunya.  Kata penjabat sementara kepala sekolah, Bapak Abu Bakar, kondisi seperti ini biasa terjadi.  Guru-guru yang punya kepentingan ke Loksukon harus pergi pagi dan pulang sore, karena bis dari Langkahan ke Loksukon hanya ada pagi dan sore saja.  Jadi kalau ada keperluan mereka harus meninggalkan tugas mereka.  Tiga kelas tanpa guru???? Bagaimana nasib generasi bangsa ini selanjutnya?

Aku masuk kelas, anak-anak yang sedang berdiri langsung duduk.  Sebuah sikap yang patut dihargai.  Berbeda dengan anak-anakku di MI Asih Putera Cimahi dulu, yang kurang memperhatikan kesopanan terhadap guru.  Ku sapa dengan salam. Kutanyakan, apa yang sedang dipelajari? IPA! Serentak, anak-anak menjawab. Oh materinya bunyi ya? Kemudian aku memberi pertanyaan, coba jika ibu ketuk meja ini kamu tetap duduk dan dengarkan, kemudian telingamu kamu tempelkan ke meja dan dengarkan ketukannya, mana yang lebih keras?  Anak-anak rebut menjawab sesuai presepsi dan dugaan mereka.  Nah…sekarang coba sendiri sama kawanmu! Kemudian aku beri tantangan lagi.  Jika kamu mengetukan batu di udara dengan di dalam air maka mana yang lebih nyaring? Anak-anak pun menjawab berebutan. „Nah, kalian suka berenang di sungai toh? Ya, anak-anak menjawab serempak.  “ Nanti pulang sekolah, kalian coba ya!“  Pada dasarnya semua anak sama, punya potensi rasa ingin tahu, potensi mempredikisi, dan potensi mencoba sesuatu.  Potensi yang tersia-sia jika pembelajaran guru di kelas hanya menyuruh anak untuk mencatat, mengisi LKS, dan mengoreksi jawaban LKS yang mana yang salah dan mana yang benar.

Kami pun masuk ke ruang guru, mengobrol dengan guru-guru.  Pada pertemuan itu guru-guru mengeluhkan susahnya mendidik anak-anak dengan orang tua yang tidak perduli dengan pendidikan dan menggerutu tentang keterpencilan mereka.  Saya sangat terkesan dengan cara Pak Fikri memotivasi guru-guru.  “Apakah orang-orang top dan para pemimpin di negri ini lahir dari sekolah dasar yang bagus?”  Soeharto? Apakah ia lahir di sekolah bagus dan di kota? Tidak! Ia besekolah di sekolah Desa. SBY juga begitu.....(banyak orang top lainnya di sebutkan beliau).  Jadi, ada kemungkinan calon pemimpin bangsa ini justeru lahir di wilayah-wilayah seperti ini, karena apa? Karena anak-anak tersebut teruji dengan kondisi alam dan masyarakat untuk tangguh.  Sedangkan anak-anak di kota, banyak dimanja dengan fasilitas.  Dan jangan dibayangkan ngajar anak-anak kota itu enak.  Masalahnya lebih banyak lagi, ada anak yang tidak mau diam misalnya...!“  Apa yang dikatakan Pak Fikri sangat mengesankan, ketika aku menatap guru-guru, mereka pun terkesima.  Secercah motivasi ini mudah-mudahan membuat mereka yang sejak 1997 tidak pernah mendapakan pelatihan apa pun, tersemangati.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Dinas Kabupaten Aceh Utara.  Pak Kepala Dinas sendiri masih dalam perjalanan pulang. Karena sebelumnya beliau menghadiri RENSTRA Pendidikan Nasional di Sawangan.  Sebelumnya pun kami menenemui beliau dan kami telah menyatakan maksud program kami.  Di Dinas, kami bertemu dengan Pak Umar Arkhady dan Pak Hasan sebagai koordinator lapangan yang mengetahu banyak tentang kondisi lapang.  Kami berbincang-bincang tentang maksud program dan memohon bantuan dari sisi birokratis agar mendukung program ini.  Pada prinsipnya mereka sangat welcome (rasanya keterlaluan kalau tidak welcome, karena kami berniat turut membantu program pendidikan nasional).  Ada tawaran untuk pindah lokasi ke dekat smp, tapi kemudian kami mempertimbangkan keamanan lokasi tersebut, karena jauh dari pemukiman penduduk.

Selesailah kunjungan kami....tak waktu untuk jalan-jalan menikmati indahnya Lhoksemawe.....!Katanya sih, kerja DD seperti ini??? Oleh-oleh saya beli bersama Bu Kos di pasar terdekat.  Menunggu pulang pada malam hari nanti, saya pun mengobrol dengan Bu Kos.  Suaminya ternyata dulu anggota DPRD, dan ditemukan tewas ketika konflik dulu.  Bu Kos tak sendiri, beberapa tetangganya pun mengalami hal yang sama.  Jumlah janda di Aceh memang besar.  Konflik antar muslim telah membawa kesengsaraan baik pada keluarga, lingkungan, maupun negara.  Mengapa umat islam, gampang terpropokasi oleh isue dan dimainkan kepentingan asing??? Mungkin kata yang tepat untuk menjawabnya adalah „saatnya khilafah memimpin dunia“. 

Tengah malam, kami bersiap pulang menuju Medan, pesawat berangkat pukul 11.  Aku berniat mengunjungi kawan lama di Medan, sambil menunggu keberangkatan pesawat.  Tetapi rasanya ga enak, karena aku pergi bersama bapak-bapak.  Oleh karena itu aku mengurungkan niatku saja.  Sampai di Bandara masih Jam 7 an.  Pak Fikri meminta jadwal pernerbangan dimajukan.  Walaupun harus menambah uang, akhirnya diputuskan untuk mempercepat pulang.  Walaupun melelahkan....perjalanan ini pun harus diakhiri dengan alhamdulillah.



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help