
Kupang, NTT adalah kota ke tiga yang aku kunjungi untuk pelatihan. Kali ini temanya tentang mitigasi bencana. Agak mendadak mendapatkan tugas ini, karena seharusnya yang pergi adalah Pak Fikri, tapi akhirnya aku terima juga.Kusampaikan keinginanku untuk menelusuri kota ini, pada Bu Evi. Bu Evi membicarakan tentang Mas V, Teh Y, Bu L, Pak F, dan B N yang merupakan petinggi di DD Republika, yang jika ada tugas ke luar kota, mereka datang, kerja, dan segera pulang lagi, tak sempat menikmati apa pun di kota yang dikunjungi. Ehhhmmm, pikirku. Lalu aku tanya balik ke bu Evi, "Enak tidak bekerja dengan ritme seperti itu?" Saya salut pada orang-orang yang bekerja dengan dedikasi seperti itu, tetapi saya bukan tipe orang seperti itu" Jika berkunjung ke suatu daerah yang paling saya sukai adalah merasakan masakan daerah tersebut, mengenal budaya daerah tersebut, dan hunting oleh-oleh, karena walau bagaimana pun oleh-oleh adalah cermin dari masyarakat tersebut (oleh-oleh 5.000 an biasanya yang saya cari). Rasanya rugi sekali, sudah jauh-jauh ke suatu tempat, dibayar pun sangat minim (padahal 2 jam sekaliber saya, ngisi seminar di UIN bisa dapat 1,3 jt) ehhh cuma berkutat dari bandara-hotel-tempat pelatihan-hotel-bandara...wah sayang sekali tak dapat apa-apa. Alhamdulillah bu Evi satu pemikiran dengan saya. Dengan diantar kakak sepupunya, kami menelusuri kota kupang yang ternyata pulau ini sangat indah, laut membentang di samping kiri jalan.... Kami menemukan tulisan yang lucu.....ketika sampai di sebuah goa. Namanya goa itu silahkan anda baca yang keras pada saat ini, boleh sambil berteriak '
"G U A M O N Y E T"

ya begitulah orang Kupang menulis goa monyet, yang memang disana banyak monyet. Kami bisa menikmati jalanan bebas hambatan di Kupang...karena hanya mobil kami saja yang ada di jalan tersebut. Pagi sebelum pulang, kami sempat berfoto di bawah tugu sasando. Sasando adalah alat musik asli kupang. Yang menarik dari sasando adalah memainkannya dengan cara di "sintreuk", saya terkejut ketika tahu cara memainkan alat musik ini. Gitar, kecapi, dan harpa diperlakukan sangat lembut sehingga menghasilkan nada-nada indah. Sasando di "sintreuk" bunyi yang dihasilkan indah memang, tetapi. ".
..sebelumnya guru-guru pada saat pelatihan mengatakan bahwa anak-anak disini keras-keras, kalau kitanya lembut akan dilecehkan, jadi kitanya harus ikut keras juga...bahkan main pukul..." saya mencoba menghubungkan cara memainkan sasando dan watak orang-orang kupang....mungkin ini ada hubungannya. Kekerasan mereka terlihat dari cara mereka memainkan alat musik khas mereka. Saya pun sempat mengunjungi pantai Lusiana, pantai yang indah, tampak pula di pantai itu anak-anak sedang bermain....sayangnya saya gak sempat makan jagung bose...karena ke halalannya diragukan.

Good Bye Kupang, Mudah-mudahan segala hal yang telah kami berikan di pelatihan, tidak akan di praktekan, karena kalau sampai dipraktekan berarti wilayah tersebut kena bencana"