
Ke Aceh Utara lagi....! Ini kali kedua ke Aceh Utara lagi, tetapi sebetulnya ini waktu yang tidak tepat, karena ada banyak agenda di Jakarta dan Bogor, Jadi pergi dengan pikiran yang kalut, ditambah lagi fisik yang tidak fit, karena hari-hari sebelumnya tiddak pernah berhenti untuk istirahat, bahkan sabtu minggu masih harus bekerja....wah saya kadang merasa tidak adil! Mungkin yang lain bisa seenaknya masuk kantor hanya 2 hari dalam seminggu dan 3 harinya lagi melakukan kegiatan lain entah di Depok, di Garut, atau di Bandung, tetapi saya tetap masuk tiap hari, karena saya tidak bekerja berdasarkan contoh atasan, tetapi saya bekerja karena komitmen pada umat. Lagian saya berusaha untuk menyelesaikan buku panduan pendampingan...soalnya saya punya firasat tidak terlalu lama lagi akan berhenti dari DD...banyak alasannya, diantaranya adalah ritme ke luar kota yang cukup intens, bagi seorang ibu tentu saja pekerjaan ini tidak cocok. Saya akan memberikan pelatihan tentang media pembelajaran IPA....ketika pelatihan mulai, saya mengobrol dengan rekan-rekan guru Aceh Utara....wah...wah...pelatihan seperti ini ternyata bukan yang pertama kali mereka dapatkan, sebelumnya banyak pelatiahan yang sudah mereka dapatkan dari UNICEF SAVE chiLdren, Heritage Foundation, .... sehingga wajar kalau ada peserta merasakan, bahwa pelatihan ini tak menambah pengetahuan atau skill mereka, walaupun kebanyaakan peserta menyatakan 30% materi sudah pernah mereka dapatkan, artinya 70% materi yang dilatihkan adalah baru. Dan yang kedua terbesar adalah 50% materi ini sudah mereka dapatkan. Terus terang agak sedikit kecewa...tetapi sekali lagi mungkin ini prinsip DD??? yang penting penerima manfaatnya banyak??? Pelatihan berlangsung 3 hari dengan peserta 150 orang...., tetapi terus terang...saya menyangsikan hasil pelatihan ini secara kualitas....bagi saya SMALL IS BEAUTIFUL... KECIL TETAPI KUALITAS YANG DICAPAI MENAKJUBKAN...MAKA SELURUH DUNIA AKAN MELIHAT ITU, DARIPADA BANYAK TETAPI LAKSANA BUIH....terus terang hati ini yang selalu berontak, ketika harus melakukan pelatihan dengan model seperti ini (walaupun sampai sekarang saya masih harus mematangkan ide-ide ini, dan belum muncul "AHA"...) lagi-lagi saya merasa telah membubajirkan dana umat, yang seharusnya bisa digunakan sesuatu yang lebih manfaat. 70 juta dari DD Bandung, bisa disumbangkan 10 komputer untuk 10 sekolah di pelosok Aceh utara, atau 1 buah ruang perpustakaan dengan bukunya yang sangat representatif. Atau 7 kendaraan bermotor bagi guru pelosok yang kesulitan untuk datang ke sekolah.....atau beasiswa bagi guru SD yang akan melanjutkan ke S1. Jika pelatihan sekali dan tak berkelanjutan...saya selalu berpikir ini mubajir..., kecuali pelatihan tertentu yang sedang saya garap untuk guru-guru...(tak akan saya bilang-bilang dulu takut dicontek he...he...he...).
walau bagaimana pun ada beberapa hal yang menarik dari perjalanan ini:
Driver yang mengantar kami adalah orang aceh, ia banyak bercerita selama di jalan, saya pun jadi NGEH dengan kota Peurlak...kata pertama masuknya Islam yang ternyata kondisinya luar biasa memprihatinkan, bahkan katanya termasuk kota yang miskin...(wah, senasib dengan islam, yang juga terpuruk pada saat ini). Yang menarik kedua adalah ketika pulang...perjalanan seorang diri selalu lebih mengasyikan bagi saya, karena saya menemukan hal-hal menakjubkan. saya berkenalan dengan Icut dan Irma, dua orang baik hati yang mau menampung saya untuk beristirahat sebentar, sebelum melanjutkan perjalanan. Icut adalah teman seperjalanan saya dalam bis malam dari Aceh ke Medan, ia bekerja sebagai pegawai toko, awalnya saya agak waspada...tetapi di terminal saya diingatkan oleh orang aceh, "kalau sama orang aceh ga usah takut, tetapi sama orang medan hati-hati" jadi dengan berpedoman pada perkataan orang aceh di terminal, saya mau saja ketika Icut mengajak saya untuk ke rumahnya dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Hemmm rumah yang sangat sederhana, yang menjadi kosan Icut, di kamarnya hanya ada kasur yang digelar di lantai, lemari, dan dispenser...tapi di kosan sederhana ini saya pun tertidur pulas...sampai mimpi pula. Yang paling mengesalkan dalam perjalanan ini adalah...ketika di pesawat, dibelakang saya ternyata para bisnisman and woman, yang kenalan, lalu bicara bisnis, kayaknya bidang property mereka berbicara terus masalah bisnis dalam bahasa china...suara perempuan china yang cerewet itu betul-betul membuat telinga saya sakit..... terlebih bandara polonia pasca terbakar sangat semerawut, sehingga kesempatan istirahat dengan tenang tak bisa dilakukan....tadinya saya berharap di pesawat bisa istirahat, tapi...cerewetnya orang cina membuat pekak telinga saya. Kalau begini saya lebih baik memilih pesawat yang paling murah....walaupun bersatu dengan para penenteng dus indomie tapi saya bisa tidur nyeyak karena tidak diganggu orang-orang yang menggunakan pesawat sebagai ajang bisnis.
Oh..ya diperjalanan ini , saya menyempatkan diri untuk shalat subuh berjamaah di mesjid dekat hotel, teman saya dari Aceh dulu sering mengingatkan saya, kalau jarak rumah-mushola dekat, pantang solat di rumah, itu orang Aceh, maka saya pun berkeinginan melihat itu, sayangnya saya sholat di mesjid yang berada di Kompleks ABRI, jadi perempuan aceh yang kemesjid hanya ada satu shaf saja. By the way lebih mending, daripada di komplek saya, tak ada perempuan yang mau shalat subuh di mesjid.
Saya masih berharap bisa datang lagi ke Aceh...tetapi membawa sesuatu yang lebih bermanfaat!